Eskatologi Menurut Bapa Gereja Part 2


Irenius dari Lyon 

    Irenius sebenarnya berasal dari Asia, tepatnya dari Smirna yang lahir pada tahun 155. Ia masih sempat mengenal baik uskup Smirna, Polikarpus dan juga menerima tradisi Yohanes yang berakar di Gereja Smirna dan Efesus. Ia sempat tinggal di Roma sebelum ia berangkat ke Lion pada tahun 177. Ia menjadi imam dan kemudian menjadi uskup di kota Lion. Pusat pemikiran Irenus ini ialah rekapitulasi segala sesuatu berpusat keapada Kristus (kembali ke Kristus). Maksudnya ialah bahwa Kristus adalah Sabda yang berinkarnasi menjadi manusia; Ia adalah Tuhan dan juga manusia biasa sama seperti kita. Kesatuan Kristiani telah dimulai sejak penciptaan dan dilanjutkan dengan Perjanjian Lama yang merupakan suatu perintis untuk kedatangan Kristus, Sabda Tuhan yang mengarhkan pada pemenuhan kemanusiaan dalam bimbingan Roh Kudus melalui baptisan. Dalam eskatologinya, Irenius tampak lagi pengaruh teori rekapitulasi yang digemarinya. Anti Kristus merupakan lawan Kristus yang keiblisan sebab ia merangkum segala murtad, ketidakadilan, kedurhakaan, kenabian palsu serta pengkhianatan, mulai dari awal dunia sampai akhirnya.

 
TERTULIANUS 

    Tertulianus lahir pada tahun 160 dari keluarga senator dan pada masa mudanya ia belajar Hukum di Kartago, kemudian ia pergi ke Roma untuk belajar materi yang sama dan mendapat kedudukan yang baik di dalam pekerjaan. Kemudian ia kembali ke Kartago dan menjadi katekumen dan kemudian dibaptis. Pada tahun 195 ia bertobat menjadi Kristen berkat pengalamannya bagaimana para martir berjuang untuk mempertahankan iman mereka. Mulai dari tahun 206/7 ia tertarik pada eresi Montanisme dan kemudian malah menjadi anggota aliran ini. Montanisme adalah menekankan pada bahasa spiritual atau bahasa Roh. Setelah ia menjadi penganut Montanisme, ia menulis beberapa buku: Adversus Marcionem, Adversus Valentinianos, De resurrectione carnis, de Lallio dan akhrinya De corona. Semuanya ini ditulis dari antara 207 sampai dengan 211. Tertulianus berbicara tentang keadaan penderitaan yang menghapus hukuman dosa sesudah kematian. Kecuali para martir yang langsung boleh tinggal dalam kehadiran Tuhan, semua orang mati lainnya harus tinggl di pratala dulu dan di sana menderita hukuman sampai penghakiman terahir pada akhir zaman. Akan tetapi doa permohonan orang-orang hidup dapat memberikan kepada mereka penyegaran dan istirahat. 


JURGEN MOLTMAN 

    Jurgen Moltmann lahir pada 8 April 1926 di Hambur, Jerman. Dilahirkan dalam sebuah keluarga nonreligius. Sejak kecil, Moltman mempunyai ketertarikan dengan puisi, karya sastra dan pemikiran para filsuf Jerman, Lessing, Goethe dan Nietzche. Moltmann mengakui bahwa ia beruntung karena imannya kepada Kristus ia memiliki semangat dan harapan untuk bertahan hidup, meski dalam penderitaan yang hebat. Ia menemukan Tuhan dalam penderitaannya. Moltman yakin bahwa Eskatologi bukanlah lampiran atau bagian akhir dari perbincangan teologis. Keyakinan Moltmann berasal dari pemahaman yang menyatakan bahwa konteks sangat penting dalam berteologi. Konteks merupakan ruang di mana hidup Jemaat berlangsung. Jemaat memerlukan penafsiran para teolog agar mereka dapat hidup sesuai dengan panggilan mereka. Penafsiran terus-menerus merupakan kesadaran yang terbuka ke masa depan karena masa kini tidak mengandung makna penuhnya didalam dirinya sendiri. Di dalamnya hanya ada keterkaitan dari apa yang akan datang. Penafsiran terus-menerus merupakan kesadaran yang terbuka ke masa depan karena masa kini tidak mengandung makna penuhnya didalam dirinya sendiri. Di dalamnya hanya ada keterkaitan dari apa yang akan datang.
    Dua kata kunci dalam memahami bangunan teologi Jürgen Moltmann, yaitu eskatalogi dan salib. • Baginya, eskatologi dan penyaliban merupakan dasar iman Kristen. Dalam Theology of Hope, ia mengatakan eskatologi bukan hanya salah satu elemen dalam kekristenan, melainkan sebuah medium iman Kristen yang dari padanya segala sesuatu dibangun. Dengan demikian, kekristenan adalah eskatologi itu sendiri. Eskatologi dan salib, bukanlah dua hal berbeda dan terpisah satu sama lain, melainkan satu kesatuan yang berkesinambungan. Moltmann (1993b, 160) menegaskan ini dengan mengatakan teologi Kristen haruslah eskatologi salib (eschatologia crucis) yang dibangun di atas kebangkitan Kristus yang tersalib (Moltmann 2012, 57). 

    Dalam era modern, pemikiran teologi seperti yang dikembangkan oleh Irenius, Tertulianus, dan Jürgen Moltmann menghadapi tantangan baru dalam menghadapi perubahan sosial dan pemahaman iman. Konsep rekapitulasi yang dikemukakan oleh Irenius, yang menekankan bahwa segala sesuatu harus kembali kepada Kristus, bisa bertabrakan dengan gagasan sekularisme yang semakin mengikis nilai-nilai religius. Selain itu, pemahaman tentang Antikristus sebagai lawan Kristus yang merangkum segala bentuk ketidakadilan dapat menimbulkan perdebatan, terutama di dunia yang semakin menolak pandangan dualistik mengenai kebaikan dan kejahatan. Di sisi lain, ajaran Tertulianus tentang penderitaan sebagai cara penyucian dosa dapat dianggap kurang relevan di era yang lebih mengutamakan hak asasi manusia dan kenyamanan hidup. Dalam konteks ini, ajaran teologi klasik harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya. Perdebatan seputar kehidupan setelah kematian juga menjadi semakin kompleks dengan munculnya berbagai pandangan dari sains dan filsafat modern. Oleh karena itu, tantangan utama bagi umat Kristen masa kini adalah menemukan keseimbangan antara iman tradisional dan perkembangan pemikiran kontemporer.

    Selain itu, konsep eskatologi yang ditekankan oleh Moltmann juga menghadapi tantangan besar dalam dunia yang semakin pragmatis dan berorientasi pada hasil instan. Eskatologi yang seharusnya menjadi pengharapan bagi masa depan sering kali dianggap tidak relevan oleh banyak orang yang lebih fokus pada kehidupan saat ini. Penekanan Moltmann pada hubungan antara penderitaan dan harapan juga bisa berbenturan dengan budaya modern yang cenderung menghindari penderitaan dan mencari kebahagiaan instan. Dalam konteks ini, banyak orang mulai mempertanyakan relevansi penderitaan dalam rencana keselamatan Tuhan. Selain itu, interpretasi teologis mengenai peran gereja dalam menafsirkan kehidupan jemaat juga mengalami tantangan di tengah semakin berkembangnya individualisme. Banyak orang merasa bahwa mereka dapat memahami iman secara pribadi tanpa perlu bergantung pada institusi gereja. Oleh karena itu, gereja dan teologi harus menemukan cara baru untuk menyampaikan ajarannya agar tetap relevan dalam kehidupan modern.

    Dengan adanya berbagai perubahan dalam masyarakat, teologi harus tetap dinamis dalam menanggapi berbagai isu yang berkembang. Tantangan dari filsafat sekuler, perkembangan teknologi, serta pemikiran yang semakin kritis terhadap ajaran agama menuntut adanya pendekatan baru dalam memahami iman. Gereja dan para teolog harus mampu menjembatani pemikiran klasik dengan realitas modern agar tetap dapat menjawab kebutuhan spiritual umat. Konsep tentang penderitaan, penghakiman, dan keselamatan perlu dikemas dalam bahasa yang lebih relevan tanpa menghilangkan inti ajaran Kristiani. Selain itu, perlu adanya dialog yang lebih terbuka antara agama dan ilmu pengetahuan agar tidak terjadi jurang pemisah yang semakin lebar. Dalam menghadapi era yang terus berubah, penghayatan iman harus lebih bersifat reflektif dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ajaran teologi tetap memiliki tempat dalam kehidupan manusia modern tanpa kehilangan makna sejatinya.

    Kesimpulannya bahwa Pemikiran teologi yang dikembangkan oleh Irenius, Tertulianus, dan Jürgen Moltmann memiliki relevansi yang mendalam dalam memahami iman Kristen di berbagai zaman. Irenius menekankan bahwa segala sesuatu harus kembali kepada Kristus sebagai pusat kehidupan, sementara Tertulianus menyoroti peran penderitaan dalam penyucian dosa dan kehidupan setelah kematian. Di sisi lain, Moltmann mengembangkan teologi harapan yang menekankan bahwa eskatologi bukan hanya tentang akhir zaman, tetapi juga memberi makna pada kehidupan saat ini. Pemikiran mereka memberikan landasan kuat bagi iman Kristiani dalam menghadapi tantangan dunia yang terus berubah. Namun, konsep-konsep ini perlu terus dikaji dan diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih relevan agar tetap dapat diterima oleh umat modern.

    Dalam konteks dunia modern, pemikiran teologi ini menghadapi tantangan dari perkembangan sains, sekularisme, dan individualisme yang semakin kuat. Konsep penderitaan sebagai jalan penyucian yang diajarkan oleh Tertulianus mungkin dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai hak asasi manusia saat ini. Eskatologi Moltmann yang menekankan harapan bisa jadi kurang dipahami di tengah masyarakat yang lebih berorientasi pada kehidupan duniawi. Selain itu, pemikiran Irenius tentang rekapitulasi menuju Kristus menghadapi tantangan dari berbagai pandangan filosofis yang semakin menekankan relativisme kebenaran. Oleh karena itu, penting bagi gereja dan teolog untuk menjembatani pemikiran klasik ini dengan tantangan modern agar iman tetap hidup dan bermakna. 

    Maka, teologi Kristiani harus terus berkembang tanpa kehilangan esensi ajaran dasarnya. Konsep rekapitulasi, penderitaan, dan eskatologi tetap menjadi dasar iman, tetapi perlu disampaikan dalam cara yang lebih relevan bagi umat saat ini. Gereja dan para teolog harus membuka ruang dialog dengan dunia modern agar ajaran Kristiani tetap dapat menjawab persoalan hidup manusia. Pendekatan yang lebih reflektif dan aplikatif akan membantu umat memahami bahwa iman bukan hanya tentang masa depan, tetapi juga memiliki makna mendalam bagi kehidupan saat ini. Dengan demikian, iman Kristen tetap menjadi sumber harapan dan pegangan bagi manusia di tengah perubahan zaman.

Komentar