.jpg)
Dalam tugas pelayanan gereja tidak hanya Leitourgia/Liturgi dan Peribatan dan kerygma/Pewartaan, tetapi juga ada Diakonia/ Pelayanan, dan Martyria/Kesaksian. Pelayanan Gereja merupakan perwujudan dari tugas rajawi Kristus yang diemban oleh semua orang beriman berkat baptisan yang diterimanya.pakan perwujudan dari tugas rajawi Kristus yang diemban oleh semua orang beriman berkat baptisan yang diterimanya. Sebagaimana Kristus datang untuk melayani, demikian juga panggilan semua orang-orang yang percaya kepada-Nya. Pelayanan Gereja dijalankan menurut teladan Kristus sendiri.
Diakonia atau Pelayanan. Kata diakonia yang merupakan bahasa Yunani berasal dari kata kerja “diakon” yang berarti melayani. Tuhan Yesus sendiri amat pandai memilih kata yang tepat untuk menggambarkan eksistensi terdalam dari kehadiranNya di dunia ini bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (bdk. Mat 20: 28). Diakonia merupakan salah satu segi hidup Gereja yang membidangi pelayanan kepada masyarakat. Gereja dibangun bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk melayani orang lain. Ada beberapa unsur pelayanan yang bersumber dari Kristus sendiri. Pertama, pelayanan itu diarahkan kepada Allah sebagai wujud ambil bagian dalam karya Allah. Kedua, pelayanan diarahkan untuk kemajuan hidup manusia terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Ketiga, pelayanan Gereja adalah pelayanan yang dilakukan tanpa pamrih. Terdapat tiga bentuk diakonia atau pelayanan Gereja yaitu : Pertama, pelayanan karikatif yang dilakukan dalam jangka pendek dengan memberikan bantuan secara langsung misalnya orang lapar diberikan makanan. Kedua, pelayanan reformatif yang menekankan aspek pembangunan yakni tidak sekedar memberikan bantuan pangan dan pakaian tetapi mulai memberikan perhatian seperti penyelenggaraan kursus keterampilan, dan pemberian atau pinjaman modal kepada sesame. Ketiga, pelayanan tranformatif sebagai tindakan Gereja untuk melayani umat manusia secara multidimensional (roh, jiwa dan tubuh) dan juga multisektoral (ekonomi, politik, hokum dan agama)
Martyria atau Kesaksian. Kesaksian hidup merupakan bagian dari pewartaan. Dalam dokumen Konsili Vatikan II Ad Gentes dijelaskan bahwa salah satu bentuk pewartaan adalah kesaksian kristiani. Yang dimaksud dengan kesaksian kristiani adalah cara hidup sehari-hari yang dijiwai oleh rahmat sakramental, dimana dia telah mengenakan diri sebagai manusia baru berkat baptisan yang kemudian dikuatkan dengan Roh Kudus dan dipupuk melalui sakramen-sakramen Gereja. Pada saat yang tepat dan diperlukan, kesaksian iman perlu diungkapkan secara terus terang agar orang lain dapat mengenal Allah dan ajaran iman yang dihayati. Kesaksian hidup seperti ini akan menghasilkan tanggapan dan pertobatan. Orang beriman tidak boleh takut untuk menampakkan kekhasan hidupnya sebagai orang kristiani baik melalui sikap, simbol maupun ungkapan-ungkapan lainnya. Untuk menguatkan kesaksian hidup itu, semua umat beriman perlu diteguhkan melalui sabda, dikuatkan melalui sakramen dan disertai melalui kehadiran di tengah-tengah mereka. Tidaklah mudah untuk memberikan kesaksian sebab seringkali ada reaksi-reaksi negatif yang bisa melemahkan. Mendoakan mereka yang diutus untuk menjadi saksi-saksi Kristus di tengah masyarakat menjadi bentuk dukungan yang sangat menguatkan.
Diakonia dan martyria merupakan dua aspek penting dalam kehidupan Gereja yang saling melengkapi. Diakonia, yang berarti pelayanan, mencerminkan misi Kristus sebagai pelayan bagi umat manusia, seperti yang dinyatakan dalam Injil Markus 10:45 di mana Yesus datang untuk melayani dan memberikan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Melalui diakonia, Gereja berkomitmen untuk melayani yang miskin, sakit, dan terpinggirkan, menciptakan kehadiran kasih Tuhan di tengah masyarakat. Pelayanan ini tidak hanya terbatas pada tindakan fisik, tetapi juga mencakup dukungan dunia lain dan emosional bagi mereka yang membutuhkannya.
Di sisi lain Martyrium adalah kesaksian yang diberikan oleh orang-orang beriman, bahkan hingga mengorbankan nyawa mereka demi iman. Ini mencerminkan komitmen yang mendalam terhadap kebenaran dan ajaran Kristus, di mana martir menjadi Saksi hidup akan kasih dan mengorbankan Yesus. Dalam konteks diakonia, martyria dapat dilihat sebagai puncak dari pelayanan, di mana seseorang tidak hanya melayani dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan yang berani dan penuh pengorbanan. Kesaksian ini menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejak Kristus dan memperkuat iman komunitas.
Aspek kedua ini, diakonia dan martyria, saling berhubungan dan memperkuat satu sama lain dalam misi Gereja. Diakonia yang tulus dapat membuka jalan bagi kesaksian yang lebih kuat, sementara martyria yang berani dapat memotivasi pelayanan yang lebih mendalam. Dalam dunia yang sering kali menghadapi tantangan dan ketidakadilan, penting bagi umat beriman untuk mengintegrasikan diakonia dan martyria dalam kehidupan sehari-hari mereka, sehingga dapat menjadi terang dan garam bagi dunia, serta mencerminkan kasih Allah kepada semua orang.
Kesimpulannya bahwa pelayanan Gereja mencakup beberapa aspek utama, yaitu liturgi, pewartaan, pelayanan, dan kesaksian. Selain liturgi dan pewartaan, diakonia (pelayanan) dan martyria (kesaksian) menjadi fokus yang penting dalam menjalankan misi Kristus. Melalui diakonia, Gereja meneladani Kristus yang hadir untuk melayani, bukan dilayani, dan dengan demikian, Gereja terpanggil untuk berperan aktif dalam membantu masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan, baik secara fisik, dunia lain , maupun emosional. Pelayanan Gereja ini merupakan ungkapan iman yang terarah kepada Allah dan kepada kesejahteraan manusia.
Diakonia dalam Gereja terbagi menjadi tiga bentuk utama: pelayanan karikatif, reformatif, dan transformatif. Pelayanan karikatif berupa bantuan langsung, seperti memberikan makanan kepada lapar. Pelayanan reformatif lebih fokus pada pemberdayaan dan pengembangan, seperti pelatihan keterampilan. Sedangkan pelayanan transformatif mencakup pendekatan yang multidimensi dan multisektoral untuk membawa perubahan menyeluruh dalam kehidupan masyarakat. Melalui bentuk ini, Gereja menghadirkan kehadiran Kristus ketiga dan mencerminkan kasih Tuhan secara nyata di dunia tengah.
Selain diakonia, martyria atau kesaksian hidup juga menjadi bagian penting dari pelayanan Gereja. Kesaksian hidup menuntut umat beriman untuk menampilkan iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari, berani mengungkapkan dan mempertahankan nilai-nilai Kristiani di tengah masyarakat. Walaupun seringkali tidak mudah karena tantangan dan reaksi negatif, kesaksian ini memberikan inspirasi dan memperkuat iman masyarakat. Dengan mengintegrasikan diakonia dan martyria, Gereja memenuhi panggilannya untuk menjadi terang bagi dunia dan membawa kasih Allah kepada setiap orang, baik melalui pelayanan maupun kesaksian hidup.
Komentar
Posting Komentar