Tugas Pelayanan Gereja Part 1


    
    
    Terdapat cara hidup yang dihayati secara rutin oleh Gereja Perdana, dimana mereka hidup dalam persekutuan, bertekun dalam pengajaran para rasul, berdoa dan memecah-mecahkan roti, saling memberikan pelayanan dan akhirnya menampakkan kesaksian hidup yang penuh sukacita. Cara hidup Gereja Perdana itu terus dipertahankan dan dikembangkan dari waktu ke waktu hingga saat ini. Saat ini dikenal dengan panca tugas Gereja yaitu Leitourgia(Liturgi dan Peribadatan), Kerygma (Pewartaan), koinonia(Persekutuan), diakonia(pelayanan), dan Martyria(Kesaksian). Tugas tersebut sebagai pengembangan Tri Tugas Kristus sebagai umat beriman yakni Imam, Nabi, dan Raja. 

  Liturgi dan Peribadatan(Leitourgia). Liturgi adalah perayaan iman gereja yang mengungkapkan perjumpaan umat dengan Allah. Didalam liturgi dan peribadatan ada perjumpaan antara Allah dengan manusia, dimana Allah bersama gereja-Nya bertindak sebagai pelaku. Dalam dokumen Sacrosanctum Concilium (SC) dikatakan bahwa umat diajak untuk terlibat secara aktif dan sadar. Ada 3 hal partisipasi  aktif gereja yaitu Partisipasi secara batin artinya partisipasi yang melibatkan batin yang diwujudkan dengan persiapan batin agar semakin siap dan terbuka untuk berjumpa dengan Tuhan, Partisipasi lahir, artinya partisipasi yang diwujudkan melalui tugas-tugas yang diembannya baik sebagai imam, lektor, prodiakon, paduan suara, misdinar dan lain-lain, Partisipasi sakramental terwujud dalam keikutsertaannya menyambut komuni suci dengan pantas. Tujuan dari semua tindakan liturgi itu tidak lain adalah untuk pengudusan manusia, meningkatkan hubungan pribadi dengan Allah yang lebih hidup, dinamis dan berbuah. Ada 2 unsur yang mendasar yaitu unsur kemuliaan Allah dimana Gereja mengungkapkan imannya untuk memuliakan Allah, dan unsur pengudusan manusia yang dalam arti bahwa dalam liturgia ini Gereja merayakan suatu peristiwa dimana Allah menguduskan manusia.  

     Pewartaan (Kerygma). Pewartaan adalah identitas gereja bukan sekedar tugas gereja, maka dari itu gereja tidak bisa lepas dari pewartaan. Pewartaan merupakan jantung hidup Gereja, tanpa pewartaan, Gereja tidak akan lahir, tumbuh, berkembang dan berbuah. Ad Gentes (1965) dalam Konsili Vatikan II menyebutkan bahwa Gereja sungguh-sungguh berusaha mewartakan Injil kepada semua orang,  mengikuti jejak para rasul yang telah lebih dahulu mengikuti Yesus Kristus. Sekarang ini, pewartaan merupakan panggilan yang mendesak untuk ditanggapi. Pewartaan dimulai oleh Yesus Kristus yang diutus Bapa ke dunia untuk mewartakan kabar keselamatan Tuhan. Mewartakan berarti menyatakan dengan suara penuh iman dan menghadirkan dengan tindakan penuh kasih rencana penyelamatan Tuhan, yang tidak lain adalah menghimpun semua orang menjadi satu kawanan umat-Nya yang tinggal bersama-Nya untuk menikmati kehidupan dan kemuliaan-Nya. Setelah Yesus wafat, para rasul yang meneruskan pewartaan Yesus Kristus, kemudian Tugas perutusan para rasul kemudian diteruskan oleh para penggantinya yaitu Paus dan para uskup. Melalui mereka yang didukung oleh para imam, tarekat-tarekat religius serta kaum awam, pewartaan berlangsung sepanjang sejarah.

   Dalam situasi misi Gereja saat ini, terdapat tantangan besar dalam mengintegrasikan misi Leiturgia dan misi Kerygma. Leiturgia juga mencakup perayaan liturgi dan sakramen, serta merupakan puncak kegiatan gereja dan sumber kekuatan umat beriman. Namun, banyak komunitas yang merasa bahwa perayaan liturgi tidak mencerminkan kebutuhan spiritual dan sosial mereka, sehingga mengakibatkan kurangnya partisipasi aktif dalam liturgi.

   Sementara itu, kerygma yang menyampaikan Injil dan ajaran iman juga menghadapi tantangan dalam menjangkau generasi muda dan masyarakat yang semakin sekuler. Kerygma harus mampu menyampaikan pesan Kristus secara relevan dan menarik sehingga mampu menggerakkan hati masyarakat pada iman dan tindakan. Dalam hal ini, liturgi berfungsi sebagai sekolah iman yang tidak hanya mengajarkan doktrin tetapi juga mendorong tindakan kasih dan pelayanan kepada sesama. 

    Hubungan antara Leitourgia dan Kerygma sangat penting untuk membangun komunitas yang dinamis dan dinamis. Liturgi bukan hanya sekedar tempat perayaan, tetapi juga sarana menguatkan iman dan mendorong umat untuk berpartisipasi dalam misi Gereja. Oleh karena itu, pelayanan yang efektif harus memadukan kedua aspek tersebut, memastikan bahwa semua acara liturgi mencakup pewartaan Injil yang kuat dan relevan, serta mendorong kongregasi untuk berkontribusi dalam pelayanan kasih kepada masyarakat yang ada.

 Kesimpulannya bahwa Gereja Perdana mengembangkan pola hidup yang didasarkan pada persekutuan, pengajaran, doa, dan pelayanan yang penuh sukacita, yang menjadi dasar bagi panca tugas Gereja modern. Panca tugas ini mencakup Liturgi (Leitourgia), Pewartaan (Kerygma), Persekutuan (Koinonia), Pelayanan (Diakonia), dan Kesaksian (Martyria), yang merupakan pengembangan dari tiga tugas Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja. Semua aspek tersebut berperan dalam pengudusan manusia dan penguatan hubungan spiritual dengan Allah, menciptakan pengalaman iman yang dinamis dan bermakna.

  Liturgi atau Leitourgia menjadi sarana pertemuan antara umat dengan Allah melalui perayaan iman yang mendalam, mengajak umat untuk berpartisipasi secara batin, lahir, dan sakramental. Partisipasi ini bertujuan untuk menyucikan manusia dan meningkatkan relasi dengan Allah. Di dalam Liturgi, umat tidak hanya merayakan kehadiran Allah tetapi juga memuliakan-Nya, dengan menekankan kemuliaan Allah dan pengudusan manusia. Liturgi berperan sebagai tempat pembelajaran iman dan menjadi landasan bagi umat untuk melaksanakan pelayanan kasih.

Pewartaan atau Kerygma adalah jantung misi Gereja yang tak terpisahkan dari identitasnya, mengajak umat untuk menyebarkan Injil dengan penuh kasih dan keyakinan. Pewartaan yang efektif harus relevan dan menarik, terutama di tengah generasi muda dan masyarakat modern yang semakin sekuler. Dengan mengintegrasikan liturgi dan kerygma, Gereja dapat membangun komunitas yang kuat, tempat iman dan pelayanan menyatu dalam perayaan dan tindakan. Hubungan harmonis antara Leitourgia dan Kerygma memastikan bahwa setiap liturgi menjadi ajakan untuk pelayanan nyata, sehingga Gereja dapat menjalankan misi kasih kepada masyarakat.


Refrensi : 

1. Commission for the Catechism of the Ukrainian Greek-Catholic Church. (2020). "Christ – Our Pascha: Catechism of the Ukrainian Catholic Church" (p. 328). Edmonton Eparchy. Retrieved from https://eeparchy.com/wp-content/uploads/2020/08/Christ-our-Pascha-Catechism-of-the-Ukrainian-Catholic-Church-by-Comission-for-the-Catehism-z-lib.org_.pdf

2. Catholic Church. (1993). "Catechism of the Catholic Church" (No. 1074). Vatican. Retrieved from http://www.vatican.va/archive/ENG0015/__P2T.HTM 

3. Commission for the Catechism of the Ukrainian Greek-Catholic Church. (2020). "Christ – Our Pascha: Catechism of the Ukrainian Catholic Church" (p. 53). Edmonton Eparchy. Retrieved from https://eeparchy.com/wp-content/uploads/2020/08/Christ-our-Pascha-Catechism-of-the-Ukrainian-Catholic-Church-by-Comission-for-the-Catehism-z-lib.org_.pdf

4. Benedict XVI. (2012). "Ecclesia in Medio Oriente: Apostolic exhortation on the church in the Middle East" (No. 93). Vatican. Retrieved from https://www.vatican.va/content/benedict-xvi/en/apost_exhortations/documents/hf_ben-xvi_exh_20120914_ecclesia-in-medio-oriente.html

5. Catholic Church. (1993)."Catechism of the Catholic Church" (No. 1072). Vatican. Retrieved from http://www.vatican.va/archive/ENG0015/__P2T.HTM

Komentar