KAUM AWAM

 


    Kaum awam adalah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Berkat baptisannya, maka menjadi anggota tubuh Kristus dan mengambil bagian dalam tri tugas Kristus yaitu sebagai Imam, Nabi, dan Raja. Lumen Gentium art 31 tadi menjelaskan bahwa kaum awam ialah semua orang beriman kristiani, kecuali yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui oleh Gereja.  Lumen Gentium art 31 tadi menjelaskan bahwa kaum awam ialah semua orang beriman kristiani, kecuali yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui oleh Gereja. 

    Perbedaan kaum awam dengan yang lain ada pada fungsi yang diperankan  yaitu : 1) Golongan imam yang secara khusus memiliki imamat jabatan diperuntukkan untuk tugas suci sakramental, sedangkan kaum awam untuk tugas bagi penjiwaan kristiani dalam urusan keduniawian. 2)  Sedangkan perbedaannya dengan kaum religius (kebiaraan) menyangkut dua hal yaitu tata dan sifat kehidupan. Tata kehidupan golongan kebiaraan diarahkan pada kekudusan atau memberi kesaksian unggul dan luhur bahwa dunia tak dapat diubah dan dipersembahkan kepada Allah tanpa semangat sabda bahagia. Sifat kehidupan mereka adalah tanda eskatologis, tanda harta benda surgawi, dari hidup baru dan bahagia dan dari kebangkitan yang akan datang.  Sedangkan tata kehidupan kaum awam justru ada dalam keduniaan. Mereka wajib mencari kerajaan Allah dengan mengurusi hal-hal yang fana dan mengaturnya seturut kehendak Allah. Mereka hidup di dalam dunia tetapi tampil sebagai pribadi yang mencari Allah dan kebenaran-Nya. 

    Lingkup Kerasulan Awam meliputi : 1)  Kerasulan awam gerejani adalah kerasulan yang murni gerejani yang menyangkut kegiatan dan kerasuan intern gereja. Kerasulan ini untuk memenuhi kebutuhan intern gereja dan berlalu secara internal pula. Memang bukan tugas khas kaum awam, tetapi peran sertanya telah terbukti sangat efektif membantu karya kerasulan Gereja. 2) Kerasulan madya adalah kerasulan kristiani semi gerejani dan semi duniawi. Dikatakan semi gerjani dan semi duniawi karena kerasulan madya ini memiliki dua kepentingan yaitu kepentingan gereja dan masyarakat. Melalui kerasulan ini Gereja turut memperjuangkan kepentingan masyarakat. 3) Kerasulan murni awam adalah kerasulan yang memang murni untuk kaum awam yang hidup di tengah-tengah kehidupan duniawi. Dalam aneka bidang kehidupan baik sosial, politik, ekonomi , budaya dan keamanan, kaum awam dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia.

    Di dunia saat ini, tantangan yang dihadapi anggota gereja menjadi semakin kompleks. Umat ​​​​beriman diharapkan melayani sebagai imam, nabi, dan raja sebagai anggota tubuh Kristus, berpartisipasi dalam tiga rangkap pelayanan Kristus. Namun, mereka seringkali merasa dikucilkan dari pengambilan keputusan penting  dalam komunitas gereja, yang seringkali didominasi oleh pendeta dan pemimpin agama. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpuasan dan kebingungan, terutama di kalangan umat paroki yang ingin memberikan kontribusi lebih dalam kehidupan gereja. 

    Dalam konteks ini, perbedaan fungsional antara  awam dan  imam menjadi fokus penting. Meskipun para imam mempunyai tugas suci  yang jelas sehubungan dengan sakramen-sakramen, umat awam diharapkan melaksanakan tugas  yang lebih luas dalam memberikan inspirasi Kristiani dalam masyarakat. Namun, dalam praktiknya, banyak orang awam yang merasa tidak mendapat dukungan atau pelatihan yang memadai untuk menjalankan peran ini secara efektif. Akibatnya, potensi mereka untuk membawa perubahan dalam komunitas sering kali tidak disadari dan suara mereka tidak didengarkan dalam diskusi-diskusi penting. 

    Selain itu, tantangan global seperti sekularisme dan materialisme juga berdampak pada peran umat beriman dalam masyarakat. Di dunia yang semakin menjauh dari nilai-nilai spiritual, umat beriman menghadapi dilema untuk tetap setia pada keyakinan mereka sambil memberikan kontribusi positif kepada masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi Gereja untuk memberikan ruang dan dukungan kepada kaum awam agar  dapat menjalankan peran mereka secara lebih efektif, sembari mengakui kontribusi mereka dalam membangun komunitas yang lebih beriman dan adil.

    Kesimpulannya bahwa Kaum awam adalah bagian dari umat beriman Kristen yang, meski tidak termasuk dalam golongan imam atau status religius, memiliki peran penting dalam Gereja. Berdasarkan baptisan, mereka menjadi bagian tubuh Kristus dan dipanggil untuk menjalankan tri tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja. Menurut Lumen Gentium pasal 31, kaum awam memiliki panggilan khusus untuk menghadirkan nilai-nilai Kristiani dalam urusan keduniawian, berbeda dengan peran imam yang mengemban tugas sakramental dan religius yang menjalani kehidupan sebagai tanda eskatologis. 

    Perbedaan kaum awam dengan imam dan religius terlihat dari peran dan sifat kehidupan yang dijalankan. Para imam memiliki tugas khusus dalam pelayanan sakramen, sementara kaum religius mengabdikan diri untuk kehidupan kesucian dan kesaksian eskatologis. Kaum awam, di sisi lain, hidup di tengah dunia dan dipanggil untuk membawa Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari dengan mengurusi hal-hal fana dan mengaturnya sesuai kehendak Tuhan. Mereka berperan sebagai terang dan garam dunia, menjalankan kerasulan di berbagai aspek sosial, ekonomi, politik, budaya, dan keamanan. 

    Tantangan kaum awam saat ini semakin kompleks, terutama dengan adanya sekularisme dan materialisme yang mengaburkan nilai-nilai spiritual dalam masyarakat. Meski seringkali merasa kurang diikutsertakan dalam pengambilan keputusan gerejani, kaum awam diharapkan mampu melaksanakan peran mereka dengan dukungan Gereja. Gereja perlu memberikan ruang bagi mereka untuk berpartisipasi lebih aktif dan terlatih dalam kerasulan, sehingga mereka dapat membawa dampak positif dalam membangun komunitas iman yang kokoh serta masyarakat yang lebih adil dan berlandaskan nilai-nilai Kristiani.

Komentar