Karya Keselamatan dalam Kitab Suci




    Menurut Berthold Anton Pareira, istilah perjanjian lama pada mulanya berasal dari Paulus (2 Kor. 3:14) yang dijelaskan berdasarkan Kitab Yeremia 31:31-34 bahwa Allah mengikat perjanjian dengan Israel di Gunung Sinai (Kel. 19-24). “Perjanjian ini berulang kali dilanggar sehingga Yeremia menubuatkan bahwa pada zaman yang akan datang Allah akan mengikat suatu perjanjian. Sementara menurut David L. Baker, keyakinan dasar yang ada dalam Perjanjian Lama ialah bahwa Allah berkarya dalam sejarah Israel (Baker, 2006:23). Harapan-harapan akan masa depan dalam Perjanjian Lama didasarkan pada: (1) Kepastian bahwa Allah tetap berkarya walaupun kehidupan bisa saja sulit. (2) Ketegangan antara kehadiran Allah dan ketersembunyian-Nya, yang menimbulkan pengharapan akan kehadiran Allah secara sempurna pada masa depan (3) Pemahaman tentang dosa dan ketidakpercayaan Israel secara radikal, yang hanya dapat diatasi oleh anugerah Allah. (4) Keyakinan para nabi bahwa Allah akan berkarya pada masa depan, sebagaimana Ia berkarya pada masa lalu, walaupun dengan cara yang baru dengan mereka”. 

     Maka dari itu, Kitab suci Perjanjian Lama merupakan Perjanjian Allah dan umat Israel yang memuat harapan-harapan akan masa depan. Dalam sejarah bangsa israel, ada banyak krisis yang terjadi dalam perjanjian lama. Krisis tersebut meliputi Pertama di bidang politik yaitu Krisis kepemimpinan, Penindasan, Perpecahan, Pembuangan, kalah perang. Kedua, di bidang sosial antaralain  Krisis Perbudakan, Kelaparan, Penderitaan Fisik. ketiga, yaitu krisis iman dan identitas dimana hal ini terjadi pada saat Bangsa Israel ke Babel. 
 
    Krisis-krisis yang dialami oleh bangsa Israel tidak membuat mereka berputus asa. Allah Israel selalu hadir di setiap krisis yang mereka hadapi. Bisa disimpulkan bahwa Allah Israel adalah Dia yang peduli kepada umat-Nya. Kepedulian Allah pada umat-Nya tidak bisa dilepaskan dari janji Allah kepada para leluhur umat Israel bahwa Allah akan selalu menyertainya (Kej 21:22; 26:3, 24, 28; 28:15; 31:3). Oleh karena itu, kiranya perlu melihat kembali perjanjian yang diadakan antara Allah dan umat-Nya di dalam sejarah umat Israel. Bahwa Allah akan menyertai umat-Nya di mana pun mereka berada mengalir dari perjanjian yang isinya Allah menjadi Allah Israel dan umat Israel menjadi umat Allah. Perjanjian yang demikian ini nampak jelas dari perjanjian antara Allah dengan Abraham (Kej 17:7).  Meskipun Allah selalu setia pada janjinya kepada bangsa Israel tapi seringkali Bangsa Israel yang mengingkari janji-nya pada Allah dengan melakukan perbuatan yang  tidak menyenangkan hati Allah. 

    Karya  keselamatan dalam Perjanjian Lama sering kali dipahami melalui perjanjian pernikahan antara Allah dan umat-Nya Israel. Dalam konteks ini, perjanjian ini mempersiapkan jalan bagi Perjanjian Baru yang diwujudkan oleh Yesus Kristus, yang menjadi manusia dan memberikan nyawanya untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Namun tantangan  saat ini adalah pemahaman yang berbeda terhadap perjanjian ini. Ada orang yang masih menantikan datangnya Mesias yang dijanjikan, ada pula yang mengakui Yesus sebagai Mesias yang  mati dan bangkit kembali. 

    Sulit membangun hubungan harmonis antar umat beragama di tengah keberagaman pemahaman yang demikian. Umat ​​​​Kristen dan penganut agama lain sering kali terlibat dalam perdebatan mengenai siapa yang harus menafsirkan dengan benar pekerjaan keselamatan ini. Dalam homilinya,  Paus St. Yohanes Paulus II menekankan pentingnya cinta universal dan hubungan antarmanusia sebagai landasan kehidupan sosial yang baru,  landasan di mana semua orang  bersatu dalam membela nilai-nilai transenden. Namun dalam praktiknya, perbedaan-perbedaan tersebut seringkali menimbulkan ketegangan dan konflik serta menghambat upaya  mencapai keadilan dan harkat dan martabat manusia. 

    Tantangan lainnya adalah penerapan ajaran Perjanjian Lama dalam konteks modern. Pekerjaan penyelamatan yang diungkapkan dalam teks-teks kuno sering kali dianggap tidak relevan dengan isu-isu kontemporer seperti ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan pelanggaran hak asasi manusia. Dalam konteks ini, Gereja diharapkan  menjadi suara kaum tertindas dan membantu masyarakat menemukan keadilan, seperti yang diharapkan  Paus Yohanes Paulus II dalam berbagai perayaan di Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk menghubungkan ajaran Perjanjian Lama dengan tantangan masa kini agar karya keselamatan dapat dirasakan dan diterima oleh semua orang.

    Kesimpulan nya bahwa Perjanjian Lama adalah perjanjian antara Allah dan bangsa Israel yang mencerminkan karya Allah dalam sejarah umat-Nya dan menegaskan bahwa Allah selalu hadir, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Dalam Kitab Yeremia, disampaikan bahwa Allah akan membuat perjanjian baru di masa depan, menegaskan bahwa perjanjian tersebut penuh dengan harapan akan penyertaan dan pemulihan yang hanya bisa terjadi atas karunia-Nya. Keberadaan perjanjian ini meneguhkan iman bangsa Israel meski mereka menghadapi krisis di bidang politik, sosial, dan iman, seperti pembuangan, kelaparan, perpecahan, dan kehilangan identitas.

    Di sisi lain, hubungan antara Allah dan Israel sering digambarkan sebagai pernikahan, di mana Allah selalu setia sementara umat Israel sering kali melanggar komitmen mereka. Hal ini mempersiapkan jalan menuju Perjanjian Baru yang diwujudkan dalam diri Yesus Kristus, yang datang untuk menyelamatkan manusia. Harapan akan masa depan dalam Perjanjian Lama yang didasarkan pada keyakinan bahwa Allah senantiasa berkarya, bahkan dalam situasi sulit. Melalui perantaraan para nabi, Israel diyakinkan bahwa Allah akan hadir kembali dengan cara yang baru untuk memulihkan dan menyelamatkan umat-Nya. Pemahaman ini kemudian dipenuhi dalam Perjanjian Baru, di mana karya keselamatan diwujudkan melalui Yesus Kristus yang datang sebagai Mesias untuk menyelamatkan seluruh umat manusia.

    Dalam konteks modern, perbedaan pandangan tentang Mesias dan interpretasi teks-teks Perjanjian Lama telah menimbulkan tantangan dalam membangun kerukunan antarumat beragama, serta dalam memperjuangkan nilai-nilai transenden seperti cinta universal, keadilan, dan martabat manusia. Dalam konteks modern, tantangan ajaran Perjanjian Lama adalah bagaimana relevansi karya keselamatan ini dapat dihubungkan dengan isu-isu kontemporer, seperti ketidakadilan sosial dan pelanggaran hak asasi manusia. Gereja dipanggil untuk menjadi suara bagi mereka yang tertindas, menghubungkan ajaran-ajaran lama dengan kondisi dan kebutuhan zaman sekarang. Dengan demikian, ajaran tentang karya keselamatan dapat dirasakan secara nyata dan membawa dampak positif bagi seluruh umat manusia.
    




Refrensi 

1. Katekismus Gereja Katolik. (nd). Katekismus Gereja Katolik . Diambil dari https:/https://www.vatican.va/arsip​​​​/ ENG0015 /_INDEKS.HTM

2. Yohanes Paulus II. (1989, 11 Oktober). Khotbah di Maumere [Khotbah]. Diambil dari https:https://www.vatikan.va/co​​​​/jo-paul -ii /en /h/1989/dokumen/hf_jp--aku aku akuBahasa Indonesia: .html


 

Komentar