Karya Keselamatan dalam inkarnasi



    Inkarnasi adalah sabda yang menjadi manusia. Sabda Allah pertama-tama adalah Pribadi Ilahi.  Dia ada bersama-sama dengan Allah dan berelasi dengan Allah. Dia adalah Allah dan setara dengan Bapa. Dia disebut Putera karena berasal dari atau keluar dari Bapa dan Dia sangat dikasihi Bapa (Yoh 5:20). Maka Yohanes disebut sebagai murid yang dikasihi dikarenakan Yohanes percaya bahwa Yesus sungguh Allah sungguh manusia, Ia dapat menunjukan relasi yang spesial antara Yesus dan Bapa. 

    Yesus adalah gambaran Allah yang tidak kelihatan (Kol 1:15).. Sabda Allah menjadi manusia, datang ke dunia dan masuk ke dalam sejarah manusia dan tinggal di antara manusia. Dalam diri Yesus, Sabda yang menjelma tidak ada lagi jarak dan batas pemisah antara Allah dan manusia, yang kudus dan profan, yang ilahi dan insani. Dalam Dia relasi persahabatan dan persekutuan antara Allah dan manusia sungguh-sungguh mewujud dan meraga. Melalui dan dalam diri Yesus, manusia dapat melihat, berbicara, mengalami dan menyatu dengan Allah. Dan sebaliknya melalui Yesus Allah menyapa, bersahabat dan menyatu dengan manusia. 

    Diluar gereja katolik, apakah ada keselamatan? Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, tapi orang lain juga bisa memperoleh keselamatan melalui apa yang mereka imani, Dalam Konsili Vatikan II, Yesus adalah jalan keselamatan, orang lain bisa memperoleh keselamatan karena mereka hanya  tidak tahu tentang pewartaan Yesus Kristus, maka mereka tetap memperoleh keselamatan. Allah yang menjadi manusia dan bersahabat adalah sebuah peristiwa historis dan sungguh-sungguh terjadi, bukan kisah mitologis atau imajinasi para rasul. Para rasul dan Yohanes Pembaptis adalah saksi-saksi dari Sabda yang menjelma. Sabda Allah yang menjadi manusia adalah ekspresi paling nyata dari kasih Allah kepada manusia. “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8, 16). Yesus adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (Ibr 1:3). Kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menghadirkan Allah yang mahapengasih. Melalui inkarnasi, Yesus adalah jalan, kesengsaraan, dan hidup itulah yang menjadi dasar. 

    Persoalan perwujudan Yesus sebagai Sabda yang menjadi manusia di era modern menghadapi tantangan yang signifikan di tengah kemajuan teknologi dan paham sekuler. Pemahaman tentang keilahian Yesus sering tergeser oleh relativisme, yang membuat masyarakat lebih skeptis terhadap konsep kehadiran Allah di dunia. Hal ini menuntut umat Kristen untuk memperdalam iman dan pemahaman akan inkarnasinya, sehingga dapat memberikan bukti yang relevan dan menjawab pertanyaan yang muncul dalam masyarakat.

    Di sisi lain, pluralisme agama juga memicu pertanyaan tentang eksklusivitas keselamatan dalam Yesus. Konsili Vatikan II membuka pintu bagi pemahaman yang lebih inklusif, bahwa keselamatan juga mungkin bagi mereka yang tidak mengenal Yesus tetapi hidup menurut keyakinan mereka dengan tulus. Ini menjadi kesempatan bagi umat Kristen untuk terlibat dalam dialog antaragama yang saling menghargai, serta menunjukkan bahwa kasih Allah yang hadir melalui Yesus bersifat universal dan tidak terbatas pada satu kelompok saja.

    Pada akhirnya, inkarnasi Yesus bukan sekedar mitos atau legenda, tetapi peristiwa sejarah yang nyata dan bermakna bagi umat manusia. Bagi orang beriman, ini adalah bukti kasih Allah yang hadir dalam bentuk yang dapat dirasakan dan dilihat. Maka, tantangan bagi umat Kristen adalah menampilkan kembali kisah inkarnasi ini dengan cara yang relevan, menunjukkan bahwa kasih Allah bukan hanya konsep abstrak, tetapi nyata dan hidup di tengah umat manusia.

    Inkarnasi Yesus adalah perubahan Sabda Allah yang menjadi manusia. Sebagai Putera Allah, Yesus berhubungan erat dengan Allah Bapa, menunjukkan kasih Bapa yang nyata dan penuh bagi umat manusia. Inkarnasi ini menjadikan Allah hadir dalam bentuk manusia, memungkinkan manusia untuk berkomunikasi langsung dengan Allah melalui Yesus. Dengan demikian, Yesus menjadi perantara yang menghilangkan jarak antara yang ilahi dan yang insani, menghadirkan hubungan persekutuan yang nyata antara Allah dan umat manusia. 

    Yesus juga adalah jalan keselamatan yang diberikan Allah, dan melalui Yesus, keselamatan terbuka bagi semua orang. Konsili Vatikan II menyatakan bahwa keselamatan juga mungkin diperoleh oleh mereka yang tidak mengenal Yesus secara langsung, tetapi hidup menurut keyakinan mereka dengan tulus. Ini menunjukkan bahwa kasih Allah, yang diwujudkan melalui Yesus, tidak terbatas pada kelompok tertentu, melainkan bersifat universal. Hal ini mendorong dialog antaragama yang menghargai perbedaan dan mengakui kasih Allah sebagai kekuatan penyelamat bagi seluruh umat manusia.

    Namun, di era modern, keyakinan tentang perwujudan ini menghadapi tantangan besar dari sekularisme dan relativisme. Masyarakat menjadi lebih skeptis terhadap konsep keilahian, dan pluralisme agama memberikan eksklusivitas keselamatan dalam Yesus. Oleh karena itu, umat Kristiani diharapkan dapat memperdalam pemahaman mereka tentang evolusi, serta berperan aktif dalam dialog antaragama yang inklusif. Dengan demikian, mereka dapat terus mengkomunikasikan kasih Allah yang nyata dan relevan, menampilkan bahwa inkarnasi bukan hanya sekedar ajaran agama, tetapi juga wujud cinta Allah yang hidup di tengah umat manusia.

Komentar