Inkarnasi Menurut Para Ahli Part 2



\


    Menurut Edward Schillebeeck, keselamatan dimengerti dalam paradigma satisfactio (silih), paham yang menjadi dominan sejak Abad Pertengahan yang menjadi fokus perhatian dari peristiwa Yesus Kristus adalah sengsara dan wafat-Nya di salib. Sengsara dan wafat Yesus di salib menjadi silih atas dosa manusia. Keselamatan tidak hanya sebatas pada natal dan sengsara tetapi juga karya pelayanan hidup Yesus. Kristus menjadi puncak perwahyuan diri Allah. Allah secara istimewa telah mewahyukan diri-Nya dalam Yesus Kristus. Peristiwa Yesus Kristus. Dengan “Peristiwa Yesus Kristus” dimaksudkan di sini diri pribadi Yesus Kristus, hidup dan karya pewartaan (baik melalui perkataan maupun perbuatan), wafat dan kebangkitan serta kemuliaan-Nya. Menurut hasil penelitian kristologis Schillebeecks, Yesus datang untuk mewartakan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah mempunyai makna kasih universal dan tanpa syarat dari Allah sendiri kepada manusia. Hal ini dikarenakan , bahwa terdapat kaitan yang sangat erat dan tidak terpisahkan antara diri dan hidup-Nya dengan perwujudan dan kedatangan Kerajaan Allah; bahwa dalam diri dan hidup-Nya Allah sendiri bertindak, Allah sendiri hadir. Allah mewahyukan diri sebagai “Deus humanissimus,” “sebagai Kasih tanpa syarat yang membebaskan". 

    


    Paham keselamatan menurut Karl Rahner adalah kehendak universal Allah yang memanggil setiap manusia untuk turut serta dalam kehidupan-Nya. Manusia itu sudah selalu terarah pada rahmat Allah, bukan hanya karena ia adalah pendosa, melainkan karena kodrat manusia tercipta hanya akan menemukan pemenuhannya dalam pemberian diri Allah (rahmat). “Perlunya penyelamatan (penebusan) bagi manusia tidaklah pertama-tama dipahami sebagai perlunya pengampunan/penghapusan dosa manusia; terlepas dari dosa pun manusia memerlukan penyelamatan.”. Pengampunan dosa lebih dimengerti sebagai proses, di mana tawaran rahmat Allah itu memungkinkan manusia untuk mengalahkan kejahatan dan dosa. tawaran kasih/rahmat Allah itu terwujud dalam sejarah, dalam peristiwa inkarnasi; tetapi inkarnasi tidak disebabkan/digerakkan oleh sejarah.  k penyelamatan Allah (lebih dahulu), maka ada salib dan kebangkitan Yesus; bukan sebaliknya: karena ada salib, maka ada kehendak Allah menyelamatkan manusia.  Peristiwa salib lebih-lebih dilihat dari perspektif ini, bahwa Allah sejak semula mengasihi dan memaafkan dosa manusia, kendati dosa-dosa mereka. 

    Kristus akan datang ke dunia tidak sebagai penebus dosa, seandainya manusia tidak berdosa. Inkarnasi tidak ditentukan oleh adanya dosa Adam, melainkan dipandang sebagai sesuatu yang pada dirinya sendiri baik, karena mengalir dari kasih bebas Allah terhadap ciptaan. Motif dari inkarnasi di sini adalah kasih dari kehendak ilahi untuk mengkomunikasikan diri. Inkarnasi tidak tergantung pada jatuhnya manusia dalam dosa. Yesus tidak hanya secara pasif menderita kematian. Yesus menghayatinya sebagai perwujudan tertinggi dari kebebasan-Nya untuk setia dan menyerahkan diri kepada Allah Bapa. Ia memberi contoh dan sekaligus memungkinkan manusia untuk mewujudkan diri-Nya dengan mencintai sesama dan menyerah-kan diri kepada Allah. Peristiwa inkarnasi, salib dan kebangkitan tidak dimengerti sebagai silih, melainkan sebagai prasyarat yang memungkinkan (itulah yang dimaksudkan dengan transendental dalam arti kantian) manusia mewujudkan dirinya sebagai manusia (penyerahan diri pada Allah). 

 


    Ireneus, murid Polikarpus, lahir di Smyrna-Asia Kecil antara tahun 130-140. Ia ditahbiskan menjadi imam dan kemudian dipilih menjadi uskup di Lyon sekitar tahun 177/178 menggantikan Pothinus yang wafat sebagai martir. Ireneus meninggal sebagai martir sekitar tahun 200. Ireneus menekankan pentingnya inkarnasi Logos dalam sejarah keselamatan. Bagi Ireneus, peristiwa inkarnasi merupakan kunci sejarah keselamatan. Allah menanamkan intuisi dalam diri manusia, agar manusia dapat mengenal Allah, dan melalui ciptaan. Hal ini hanya mungkin jika manusia memiliki kehendak yang kuat. Namun, karena dosa manusia pertama, manusia terpisah dari Allah. Agar manusia dapat mengenal dan melihat Allah lagi, Allah harus hadir dalam kehidupan manusia. Dia adalah pengantara Allah bagi manusia agar manusia dapat mengenal dan melihat Allah secara langsung. Bagi Ireneus, Yesus Kristus adalah Logos dari Allah yang sejak awal telah ada bersama dengan Bapa dan berinkarnasi demi keselamatan manusia. Ireneus menyimpulkan pemikirannya tentang inkarnasi dengan mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah puncak jawaban Allah agar manusia dapat melihat kehadiran Allah. Kehadiran Allah dalam kehidupan manusia bertujuan untuk mencari ciptaan-Nya dan membawa ciptaan itu kembali ke bahu-Nya. 

    Di zaman sekarang, pemahaman tentang keselamatan dalam perspektif Edward Schillebeeck mengundang banyak tantangan. Fokus pada silih (satisfactio) yang menekankan penderitaan dan kematian Yesus di salib sebagai penebusan dosa manusia seringkali dianggap oleh sebagian orang sebagai pemahaman yang kurang mencakup aspek keselamatan secara holistik. Tantangan ini muncul karena banyak orang mulai melihat Yesus tidak hanya sebagai penebus melalui penderitaan-Nya, tetapi juga sebagai teladan hidup, yang melalui karya dan pelayanan-Nya mengungkapkan kasih Allah yang tanpa syarat. Ini menimbulkan pertanyaan bagaimana penderitaan Kristus di salib bisa dihayati dalam konteks masa kini yang lebih menekankan pada kasih, pengampunan, dan keadilan sosial. 

    Karl Rahner mengajukan gagasan keselamatan yang universal, bahwa setiap manusia dipanggil untuk bersatu dengan Allah, yang dilihat tidak hanya sebagai penebusan dosa tetapi sebagai pemenuhan hakiki dari eksistensi manusia. Bagi Rahner, keselamatan bukan hanya kebutuhan untuk menghapus dosa, tetapi juga sebagai kebutuhan mendalam dari keberadaan manusia itu sendiri untuk terarah kepada rahmat Allah. Dalam konteks ini, tantangan masa kini adalah bagaimana memahami pengampunan dosa sebagai suatu proses pembentukan diri, di mana manusia dipanggil untuk mengatasi kejahatan dan dosa, namun tetap terhubung dengan kasih Allah yang hadir dalam sejarah, khususnya dalam peristiwa inkarnasi Yesus.

    Ireneus, dengan pandangannya tentang inkarnasi sebagai pusat dari sejarah keselamatan, menekankan pentingnya hubungan langsung manusia dengan Allah melalui Kristus. Menurutnya, inkarnasi adalah manifestasi kasih Allah yang membawa manusia kembali kepada-Nya, dan Yesus Kristus sebagai Logos memungkinkan manusia untuk kembali mengenal Allah. Tantangan bagi umat masa kini adalah bagaimana melihat inkarnasi bukan sekedar peristiwa sejarah, tetapi sebagai panggilan untuk mewujudkan kasih dan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia yang sering terpecah oleh materialisme dan individualisme, pesan Ireneus tentang kedekatan manusia dengan Allah melalui Kristus menjadi refleksi penting agar manusia dapat kembali menemukan makna sejati dalam hidup beriman.

    Kesimpulannya bahwa Pemikiran Edward Schillebeeck mengenai keselamatan menyoroti konsep silih (satisfactio), yang menjadi fokus pada penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib sebagai penebusan dosa. Namun, pandangan ini menghadapi tantangan modern, karena beberapa pihak merasa bahwa keselamatan tidak hanya melalui penderitaan, tetapi juga melalui kehidupan dan pelayanan Yesus yang menunjukkan kasih Allah yang tanpa syarat. Pandangan ini mengundang refleksi lebih dalam untuk menafsirkan makna penderitaan Kristus dalam konteks kekinian, yang lebih menekankan kasih, pengampunan, dan keadilan sosial. 

    Karl Rahner menawarkan perspektif keselamatan universal, di mana setiap manusia dipanggil untuk menyatu dengan Allah bukan hanya untuk menghapus dosa, tetapi sebagai pemenuhan hakiki eksistensinya. Rahner mengajukan bahwa manusia memiliki kebutuhan mendalam untuk terarah pada rahmat Allah, dan pengampunan dosa merupakan proses pertumbuhan diri yang memungkinkan manusia mengalahkan dosa, sejalan dengan kasih Allah yang hadir dalam sejarah melalui inkarnasi Yesus. Tantangan saat ini adalah memahami bagaimana pengampunan dosa menjadi jalan pembentukan diri yang aktif dalam hubungan dengan Allah yang penuh kasih. 

    Ireneus memandang inkarnasi sebagai pusat keselamatan, di mana Allah melalui Yesus Kristus sebagai Logos membuka jalan bagi manusia untuk mengenal dan melihat-Nya kembali. Baginya, inkarnasi adalah bentuk kasih Allah yang membawa manusia kembali kepada-Nya. Dalam konteks modern yang sering didominasi materialisme dan individualisme, ajaran Ireneus menekankan pentingnya manusia menyadari kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari melalui Kristus. Pandangan ini mengingatkan manusia modern untuk merasakan makna kedekatan dengan Allah, menghadirkan nilai-nilai kasih dalam relasi antar-manusia, dan menemukan arti sejati hidup beriman.

Komentar