
Anselmus Canterbury (1033-1109) adalah pemikir Abad Pertengahan yang dikenal luas dengan pembuktian ontologis akan adanya Tuhan lewat definisinya tentang Allah.Menurut Anselmus bahwa harus ada yang dikorbankan untuk mendamikan silih manusia. Anselmus menjelaskan bahwa Allah mengambil rupa manusia dalam diri Yesus Kristus demi menebus manusia dari belenggu dosa. Menurut Anselmus konsekuensi dari dosa manusia adalah rusaknya tatanan ciptaan yang sifatnya harmonis. Anselmu juga mengatakan bahwa penebusan hanya terjadi ketika manusia berdosa, tetapi manusia tidak bisa keluar dari dosa maka Allah yang berinkarnasi lah, manusia bisa keluar melalui buah salib.
Thomas Aquinas mengatakan bahwa karya Inkarnasi dilaksanakan oleh Allah sebagai obat bagi dosa; dari sebab itu, andaikata tidak ada dosa, inkarnasi tidak akan terjadi. Menurut Thomas Aquinas alasan Allah menghendaki inkarnasi ialah karena adanya dosa manusia. Thomas memandang inkarnasi sebagai sesuatu yang perlu dilakukan untuk penebusan dosa manusia. Dosa menjadikan manusia telah cacat dan terpisah dari Allah dan satu-satunya jalan untuk memulihkan semua kecacatan tersebut ialah dengan menghadirkan diri-Nya sendiri dalam rupa manusia.

Yohanes Duns Scotus lahir di Duns, Skotlandia Utara. Ia adalah seorang biarawan Fransiskan. Tahun kelahirannya tidak dapat dipastikan namun ada keterangan jelas bahwa ia ditahbiskan menjadi imam Gereja Katolik pada 17 Maret 1921 di Biara St. Andreas di Northampton. pokok gagasan Scotus tetap sama yaitu Allah lebih besar dari dosa dan oleh karena itu Ia tidak terdeterminasi oleh kondisi terbatas (Þnitum) manusia. Ia menunjukkan kasih-Nya secara paripurna dengan berinkarnasi, mengambil rupa manusia dan membuka jalan penebusan. Karena Ia Mahakuasa maka Ia bisa saja memilih jalan lain untuk menghapus dosa manusia, namun dalam kenyataannya Ia dengan sukarela memilih jalan inkarnasi dan kemudian Ia kembali memilih wafat di salib, karena dengan jalan tersebut kasih ilahi-Nya sungguh dapat dirasakan dan dialami secara konkret oleh manusia yang hendak Ia selamatkan. Karena Kristus memilih jalan tersebut berangkat dari motif kasih. Kasih, yang dimengerti sebagai “meng-hendaki yang baik”, merupakan alasan bagi Kristus untuk menempuh jalan salib yang penuh sengsara dan derita, dan dengan demikian menuntaskan misi inkarnasi-Nya , yaitu dengan pemberian diri yang utuh, dalam kebebasan dan kerelaan kehendakNya, agar dapat menyatukan segala sesuatu dengan Allah.
Peristiwa inkarnasi dan salib sebagai cara agar Allah sungguh dapat sepenuhnya melibatkan diri secara relasional dengan ciptaan yang hendak Ia tebus, kerinduan Sang Pencipta untuk menjalin ikatan penuh kasih sayang dengan segenap ciptaan-Nya. Kuasa Allah yang terbagi ke dalam dua kategori yaitu kuasa absolut (potentia absoluta) dan kuasa yang ditetapkan (potentia ordi-nata). Ia membukakan kembali kenyataan luhur manusia sebagai pribadi yang dikasihi dan dengan jalan yang Ia tempuh, membuka jalan keselamatan bagi manusia yaitu persatuan dengan Allah sebagai tujuan ultima segenap ciptaan. Jalan salib adalah jalan kebaikan yang pada gilirannya selalu terwu-jud oleh karena, dalam, dan terarah kepada kasih
Persoalan yang muncul terkait dengan pemikiran Anselmus tentang inkarnasi dan penebusan manusia adalah bagaimana kita memahami hubungan antara dosa dan tindakan penebusan. Anselmus mengajukan konsep bahwa dosa manusia merusak tatanan ciptaan yang harmonis, dan untuk memulihkan tatanan tersebut, Allah harus berinkarnasi dalam diri Yesus Kristus. Ini mengundang pertanyaan: apakah konsep inkarnasi hanya relevan bagi umat yang telah berdosa, atau apakah tindakan penebusan tetap diperlukan meski dalam keadaan manusia yang belum jatuh dalam dosa? Tantangan ini membuka diskusi tentang esensi dari kasih Allah dan bagaimana peran inkarnasi di dalamnya sebagai solusi dari masalah dosa dan kerusakan dunia.
Thomas Aquinas mengaitkan inkarnasi dengan kebutuhan akan penebusan dosa manusia. Namun, persoalan yang muncul adalah sejauh mana dosa manusia mempengaruhi hubungan antara Allah dan umat-Nya. Thomas berpendapat bahwa inkarnasi adalah obat untuk mengobati dosa, yang menunjukkan keterpisahan manusia dari Allah. Tetapi, konsep ini memunculkan pertanyaan etis tentang apakah Allah harus mengambil rupa manusia hanya karena dosa, atau apakah ada dimensi lain dari kasih-Nya yang mengarah pada keputusan inkarnasi, terlepas dari keberadaan dosa. Hal ini menuntut refleksi lebih dalam tentang sifat kasih Allah yang tidak terikat oleh keterbatasan manusia.
Perspektif Yohanes Duns Scotus memperkenalkan gagasan bahwa inkarnasi dan jalan salib diambil oleh Kristus bukan hanya karena dosa, tetapi sebagai bentuk kasih Allah yang absolut. Persoalan yang muncul dalam pandangan ini adalah bagaimana kita mengerti kasih Allah yang tak terdeterminasi dalam konteks keputusan-Nya untuk berinkarnasi dan mengorbankan diri-Nya di salib. Hal ini mengundang pertanyaan tentang kebebasan dan kehendak Allah dalam memilih jalan penebusan, serta bagaimana kasih-Nya yang tak terbatas bisa dirasakan dan dialami oleh umat manusia. Dengan demikian, persoalan ini mengarahkan kita untuk merenungkan lebih dalam tentang motivasi Allah dalam penebusan, apakah lebih kepada pemulihan hubungan atau sebagai ekspresi kasih yang tanpa syarat.
Kesimpulan dari pemikiran Anselmus, Thomas Aquinas, dan Yohanes Duns Scotus mengenai inkarnasi dan penebusan menyoroti pandangan yang saling melengkapi namun tetap memiliki perbedaan mendasar. Anselmus melihat inkarnasi sebagai jalan untuk memperbaiki tatanan ciptaan yang rusak oleh dosa, dengan mengajukan pertanyaan tentang relevansi inkarnasi dalam konteks umat manusia yang belum jatuh dalam dosa. Ini mengajak kita untuk berpikir lebih dalam mengenai tujuan inkarnasi, apakah ia hanya solusi atas dosa atau ada alasan lebih luas terkait dengan hubungan manusia dengan Allah.
Thomas Aquinas memandang inkarnasi sebagai respons terhadap dosa, yang bertujuan untuk memulihkan hubungan yang terputus antara manusia dengan Allah. Namun, pandangannya memunculkan pertanyaan tentang apakah inkarnasi hanya terjadi karena dosa, atau jika kasih Allah juga memiliki peran lebih besar dalam keputusan inkarnasi tersebut. Hal ini membawa kita pada refleksi lebih dalam mengenai motivasi kasih Allah dalam melakukan inkarnasi dan penebusan, yang tidak hanya berkaitan dengan dosa, tetapi juga dengan keinginan Allah untuk mendekatkan umat-Nya kepada diri-Nya.
Yohanes Duns Scotus menambahkan dimensi baru dengan menyatakan bahwa inkarnasi adalah bentuk kasih Allah yang absolut dan bebas, bukan semata-mata reaksi terhadap dosa manusia. Dalam pandangan Scotus, inkarnasi dan penebusan adalah pilihan bebas Allah yang mengungkapkan kasih-Nya yang tanpa batas, yang memilih untuk menyelamatkan umat manusia melalui jalan yang konkret dan penuh kasih. Pemahaman ini mengarah pada refleksi mendalam tentang bagaimana kasih Allah dapat dialami secara nyata oleh umat-Nya, tidak hanya untuk memperbaiki hubungan yang rusak, tetapi sebagai pemberian diri Allah yang sepenuhnya, demi menyatukan manusia dengan-Nya.

Komentar
Posting Komentar