Sifat Gereja yang Katolik, Apostolik, dan Sinodal

 



    Kata "Katolik" secara harafiah dinyatakan bahwa gereja baru berkembang "di seluruh dunia". Kata "Katolik" untuk membedakan dengan gereja universal yang berada dalam kepemimpinan rasul. Kata "Katolik" disebut sebagai gereja yang benar, gereja universal yang di lawankan dengan sekte-sekte. Kata "Katolik" tidak hanya secara geografis tetapi menyeluruh dan lengkap berkaitan dengan ajaran-ajaran. Sifat "Katolik" dimaksudkan bahwa tidak hanya universal tapi didalam jemaat hadirlah dalam gereja. Kekatolikan berani membuka diri mengenai hubungan batin, hubungan jemaat atau anggota-anggota yang lain keseluruhan dalam roh kudus yang menjadikan kepenuhan persekutuan dalam gereja. Gereja dibedakan menjadi 2 yaitu Gereja Insani adalah hubungan antara jemaat yang satu dengan yang lain. Gereja Illahi artinya roh kudus yang mempersatukan anggota yang lain, dimana satu dua orang berkumpul disitulah gereja hadir. 
    
    Gereja Apostolik adalah gereja yang berasal dari para rasul pada saat gereja perdana dan dilakukan secara turun0-temurun yang menjadi dasar kekatolikan. Kata "Apostolik"/Rasuli memiliki arti bahwa gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang pada kesaksian para rasul dimana Yesus sebagai batu penjuru. Para rasul itulah yang akan melanjutkan misi Yesus. Ke apostolikan tidah hanya bertanggungjawab atas ajarannya tetapi juga pelayanannya. Iman kita sama dengan iman para rasul yang dipilih oleh Kristus. 

    Gereja Sinodal yang disuarakan oleh Paus Fransiskus. Sinodal berasal dari kata sinode artinya berjalan bersama. Gambaran umat Allah yang dikumpulkan untuk menentukan jalan perziarahan, dimana dinamika persekutuan gereja lebih diutamakan di bandingkan dengan persekutuan unsur konstitusi. Sinodalitas dihayati dalam gereja dan pelayanan misi. Gereja sinode adalah gereja partisipasi dan tanggungjawab bersama. Gereja perziarahan dimana didalamnya ada persekutuan yang berjalan bersama untuk membangun gereja dan misionaris. Anggota berjalan bersama dalam persekutuan untuk membangun pengikut Kristus dalam dunia. 

    Gereja  Katolik mengacu pada sifat universal Gereja, termasuk semua orang yang dibaptis dan menganut iman Katolik. Namun, menghadapi keragaman budaya dan tradisi dari seluruh dunia mempunyai tantangan tersendiri. Bagaimana gereja bisa menjaga kesatuan  iman dengan tetap menghormati perbedaan regional? Ada juga pertanyaan tentang bagaimana Gereja dapat menjangkau orang-orang di luar komunitas Katolik tanpa mengorbankan ajaran fundamentalnya. 

    Gereja  Apostolik menekankan bahwa Gereja dibangun berdasarkan ajaran para Rasul dan meneruskan warisan iman mereka. Permasalahan muncul ketika  relevansi ajaran kuno dipertanyakan dalam konteks modern. Misalnya, bagaimana Gereja dapat menjaga keutuhan ajaran rasul dalam menyikapi perubahan sosial dan moral? Dan bagaimana  uskup sebagai penerus rasul dapat menjaga keutuhan ajaran rasul di tengah dunia yang semakin kompleks? juga mempertanyakan apakah pemerintah dapat melaksanakan tugasnya secara efektif. Di samping itu, ada tantangan mengenai bagaimana para uskup sebagai pengganti para rasul dapat menjalankan tugas mereka secara efektif dalam dunia yang semakin kompleks. 

    Gereja Sinode sangat mementingkan partisipasi semua umat beriman dalam proses pengambilan keputusan dan misi Gereja. Sinodalitas merupakan sebuah prinsip yang penting, namun penerapannya seringkali menghadapi kendala. Banyak orang beriman merasa dikucilkan dari proses ini dan takut suara mereka tidak didengar. Dalam konteks ini, tantangan bagi gereja adalah menciptakan ruang dialog  inklusif sehingga semua anggota merasa diikutsertakan dalam perjalanan iman. Hal ini menjadi semakin penting di era digital, karena kita dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dengan  lebih efisien, namun kita juga perlu beradaptasi dengan teknologi baru.

    Kesimpulannya bahwa Istilah "Katolik" secara harfiah mengacu pada karakter Gereja yang universal, ekspansif, dan mendunia. Gereja Katolik dianggap sebagai Gereja yang benar dan menganut ajaran komprehensif yang tidak hanya mempertimbangkan aspek geografis, tetapi juga nilai-nilai doktrinal dan integritas. Dalam agama Katolik, hubungan antarkomunitas juga ditopang oleh kehadiran Roh Kudus yang memperkuat persatuan dan komunitas. Gereja dapat dibagi menjadi dua ciri utama. Yang satu bersifat manusiawi, menunjukkan hubungan antar komunitas, dan  yang lainnya bersifat ilahi, yang bermanifestasi sebagai kesatuan Roh Kudus, yang hadir setiap kali manusia berkumpul dalam nama Tuhan. 
    
    Gereja Apostolik berakar pada ajaran para Rasul, yang diturunkan dari generasi ke generasi dan menjadi dasar agama Katolik. Apostolik menyatakan bahwa gereja muncul dari misi Yesus, dan misi tersebut dilanjutkan oleh para rasul, yang bertanggung jawab atas pengajaran dan pelayanannya. Sebagai penerus para rasul, para uskup diharapkan menjunjung tinggi ajaran asli di  dunia yang terus berkembang. Hal ini menghadirkan tantangan bagi Gereja tentang bagaimana menjaga relevansi ajaran-ajaran kuno dalam konteks modern. 
    
    Sebagaimana dijelaskan Paus Fransiskus, Gereja Sinode menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan melalui prinsip sinodalitas. Sinodalitas hidup sebagai komunitas yang bekerja sama dan memberikan ruang bagi semua orang untuk berkontribusi dalam perjalanan iman dan misi Gereja. Khususnya di era digital, mempertahankan inklusivitas dan partisipasi menimbulkan tantangan karena komunikasi menjadi lebih mudah namun teknologi dan interaksi perlu disesuaikan.


Sumber Refrensi : 

Komentar