Penciptaan sebagai Dasar


 
    Dalam paham penciptaan menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini diciptakan oleh Allah. Dan hanya Tuhan sajalah yang dapat menciptakan. Maka manusia sesungguhnya tidak dapat memahami arti penciptaan sebab segala pengetahuan berdasarkan pengalaman dan manusia tidak mempunyai pengalaman pernah sungguh menciptakan sesuatu. Paus Benediktus XVI menyatakan tentang akal budi dan iman manusia, akal budi dan iman itulah yang dapat menjelaskan tentang penciptaan kepada manusia. Bagi manusia memahami penciptaan berarti menyadari bahwa ia makhluk, yang seluruhnya tergantung pada Tuhan sebagai sumber hidupnya.

    Penciptaan itu sesuatu yang unik, hal itu menunjukan bahwa manusia itu terbatas dan Allah tak terbatas. Maka dalam pertemuan dengan Allah, manusia tidak hanya mengalami perbedaan radikal dengan Tuhan, tetapi juga ketergantungan pada-Nya. Manusia pada dasarnya bergantung pada Tuhan, tetapi manusia dan dunia diberi hidup oleh Allah. Allah menciptakan mahluk-mahluk-Nya dengan membedakan dari diri-Nya sendiri. Allah juga menganugerahi manusia dengan kebebasan, hal itu dimaksudkan agar manusia mempunyai hak untuk menjawab panggilan Allah dengan berbagai cara. Dari hal itulah penciptaan itu sesuatu yang khas dan unik, karena manusia 100% tergantung pada Allah namun sekaligus 100% bebas dan mandiri. 

    Penciptaan dalam Kitab Suci, dalam kitab suci dikatakan bahwa melalui penciptaan digambarkan bahwa segala sesuatu yang ada di ciptakan oleh Allah(Kejadian 1:1). Apa yang ditulis dalam kitab suci tentang kisah penciptaan merupakan refleksi iman tentang keyakinan karya keselamatan Allah, yang tersirat dalam misteri manusia yang dikasihi oleh Allah(Mazmur 8:5-6).  Kitab suci adalah tanggapan orang beriman kepada Allah. Bagi orang beriman, penciptaan bukan hanya berarti kesadaran akan ke makhlukkan nya  melainkan pengakuan akan tindakan kasih dan perhatian Allah. Penciptaan merupakan awal penyelamatan. 

     Segala sesuatu berasal dari Allah, Kesadaran iman ini dirumuskan dengan jelas sekali pada awal Kitab Suci, dalam dua kisah khusus. Yang pertama (Kejadian 1:1-2:4a) menceritakan "riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan", dan yang kedua (Kejadian 2:4b-25) secara khusus menceritakan penciptaan Adam dan Hawa. Kedua kisah inilah yang merupakan perumusan iman dalam bentuk cerita. Kisah penciptaan tidak berbicara mengenai sejarah penciptaan tetapi mengenai arti penciptaan. Kitab suci juga berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan alam semesta. Manusia dan Ekologi, kesadaran manusia sebagai"gambaran Allah", manusia adalah bagian dari seluruh ciptaan. Maka dari itu manusia ikut serta mengatur, memelihara dan menciptakan kembali dunianya. Dalam Konsili Vatikan II  menegaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk ikut serta dalam harta-harta ilahi. oleh karena itu dengan pengetahuan dan kekuasaan yang dimiliki oleh manusia, maka manusia lah yang menciptakan kembali dunia untuk menjalankan mandat dari Allah untuk menguasai dunia. 

    Sebagaimana diajarkan Gereja Katolik, penciptaan merupakan landasan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam konteks iman Katolik, penciptaan bukan  sekadar proses fisik, melainkan ekspresi kasih Tuhan yang mendalam. Setiap makhluk diciptakan dengan tujuan dan nilainya masing-masing, mencerminkan kasih  Bapa yang memberikan tempat bagi seluruh makhluk di dunia ini. Hal ini juga ditegaskan dalam dokumen gereja, yang menyatakan: “Setiap makhluk adalah obyek kasih sayang Bapa, dan kasih itu memberinya tempat di dunia. Oleh karena itu, kami memahami bahwa ciptaan adalah anugerah dari tangan terbuka Tuhan, yaitu keseluruhan.” untuk bergabung bersama dalam komunitas universal. 

    Selain itu, penciptaan memberikan jawaban atas pertanyaan mendasar tentang asal usul dan tujuan hidup manusia.  Katekismus Gereja Katolik menjelaskan bahwa pertanyaan tentang awal dan akhir  segala sesuatu adalah kunci untuk memahami makna dan arah hidup kita. Penciptaan mengungkapkan rencana kasih Allah yang lebih besar, di mana manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, memberikan setiap individu martabat yang sangat besar. Setiap manusia bukan  sekadar entitas, melainkan manusia yang mampu memiliki kesadaran diri,  kebebasan, dan komunikasi dengan orang lain, yang menunjukkan  pentingnya hubungan antarmanusia dalam konteks penciptaan. 

    Bagaimanapun juga, penciptaan juga merupakan dasar dari rencana keselamatan Allah yang diwahyukan dalam Kristus. Sejak awal, Allah  merencanakan kemuliaan ciptaan baru di dalam Kristus dan menunjukkan bahwa penciptaan dan keselamatan berhubungan erat. Dari perspektif ini, penciptaan bukanlah akhir dari sejarah, melainkan awal dari sebuah perjalanan menuju persekutuan yang lebih dalam dengan Tuhan. Memahami penciptaan sebagai bagian dari rencana keselamatan mengharuskan manusia  untuk menghormati dan peduli terhadap dunia dan satu sama lain sebagai bagian dari tanggung jawab yang diberikan Pencipta kepada mereka.

    Kesimpulannya bahwa konsep penciptaan dalam teologi menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini diciptakan oleh Tuhan dan hanya Tuhan yang berkuasa menciptakan sesuatu. Karena manusia sendiri tidak dapat menciptakan sesuatu dari ketiadaan, pemahaman kita tentang penciptaan ada batasnya. Menurut Paus Benediktus XVI. Melalui akal dan iman, manusia dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang penciptaan. Artinya seluruh keberadaan manusia bergantung pada Tuhan sebagai sumber kehidupan dan keberadaannya.

    Penciptaan ini juga menekankan perbedaan antara Tuhan yang tidak terbatas dan manusia yang terbatas, serta ketergantungan manusia pada Tuhan. Namun, Tuhan telah memberi manusia kebebasan untuk mengikuti panggilan Tuhan, menyeimbangkan ketergantungan penuh manusia pada Tuhan dengan otonomi yang diberikan kepadanya. Melalui refleksi dari Kitab Suci, kisah penciptaan mengungkapkan kasih Tuhan dan memberikan nilai kepada setiap makhluk sebagai bagian dari rencana keselamatan Tuhan. Penciptaan adalah awal dari proses keselamatan yang berkelanjutan.

    Terlebih lagi, penciptaan membentuk dasar dari rencana keselamatan yang diwahyukan dalam Kristus, yang di dalamnya Allah ingin meninggikan seluruh ciptaan ke dalam persekutuan dengan diri-Nya. Dengan memahami penciptaan sebagai bagian dari rencana keselamatan, manusia diharapkan dapat melindungi dunia dan membangun hubungan baik dengan sesama. Ini merupakan panggilan iman untuk menghormati dan melindungi ciptaan sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa syukur atas anugerah Sang Pencipta. 

Komentar