Wahyu dalam teologi katolik, yaitu berarti Allah yang tidak kelihatan dan bisa dikenal. Wahyu juga bisa dipahami sebagai kesediaan Allah untuk menyertai dan menopang manusia dalam usaha mencari dan mengenal Allah. Wahyu Ilahi menurut Konsili Vatikan I yaitu bahwa wahyu di latarbelakangi oleh berkembangnya rasionalisme atau akal budi, maka ada istilah Egosentrisme yang berarti saya berpikir maka saya ada.
Akal budi lah yang bisa menjelaskan tentang bagaimana Allah memperkenalkan diri kepada manusia. Dari situ maka muncul yang namanya Wahyu alamiah dan Wahyu Adi alamiah. Wahyu Alamiah artinya Allah dikenal melalui gejala-gejala alam dan dunia ciptaan, sedangkan Wahyu Adi alamiah yaitu kebijaksanaan dan kebaikan Allah dikenal melalui akal budi. Maka, wahyu adalah ajaran dari pihak Allah, Allah yang memperkenalkan kebenaran-Nya melalui Yesus Kristus dan para rasul.
Wahyu menurut Konsili Vatikan II, menurut Konsitusi Dei Verbum bahwa Allah yang mewahyukan diri. Wahyu tidak digambarkan sebagai pengajaran atau membentuk kebenaran. Wahyu Ilahi adalah persahabatan Allah yang membuka hatinya agar manusia bisa mengambil bagian dalam kebahagiaan hidup illahi (Hidup Allah itu sendiri). Wahyu itu merupakan hubungan personal antara Allah dengan manusia, wahyu tidak hanya kata-kata tetapi juga perbuatan.
Asal-Usul dan Maksud Wahyu, wahyu itu merupakan inisiatif Allah yang bebas menyatakan diri kepada manusia. Wahyu itu juga rahmat karena kebaikan Allah. Tujuan Wahyu agar manusia mengalami keselamatan dalam Allah. Puncak Wahyu yaitu Yesus Kristus, Objek wahyu dalam Dei Verbum adalah diri Allah sendiri. Maka Wahyu itu adalah penganugerahan diri Allah kepada manusia.
Iman adalah tanggapan masing-masing manusia terhadap karya penyelamatan Allah. Allah menyatakan diri dan manusia menanggapi tanggapan tersebut dengan positif. Iman dapat ditujukan melalui tindakan dan isi iman, tindakan iman bisa melalui kesaksian hidup dan perayaan liturgi contoh perayaan ekaristi, sedangkan untuk isi iman sendiri bisa dengan menerima tritunggal mahakudus.
Masalah yang muncul mengenai wahyu ilahi dan
iman dalam Gereja Katolik berakar pada pemahaman tentang bagaimana Allah
berkomunikasi dengan umat manusia. Wahyu ilahi, yang merupakan tindakan di mana
Allah mengungkapkan diri-Nya dan rencana-Nya kepada manusia, dianggap sebagai
suatu misteri yang mendalam. Dalam
konteks ini, Gereja mengajarkan bahwa iman adalah respons yang diperlukan untuk
menerima wahyu semacam itu. Sebagaimana
dinyatakan dalam dokumen Gereja, iman bukan
sekadar penerimaan kebenaran, tetapi juga tindakan ketaatan kepada Tuhan yang
menyatakan diri-Nya, dan pengetahuan
akan kebenaran yang diwahyukan memerlukan keterlibatan akal dan kemauan
manusia.
Selanjutnya, tantangan muncul ketika kita mempertimbangkan hubungan antara iman dan
akal. Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman dan akal adalah dua jalur pengetahuan
yang saling melengkapi dalam memahami kebenaran. Iman yang bersumber dari wahyu Ilahi harus
dipadukan dengan pemahaman rasional untuk memandu perilaku manusia dalam
konteks sosial dan moral Namun,
pemahaman yang terlalu rasional berisiko mengaburkan misteri iman, dan
iman yang buta dapat mengabaikan pentingnya akal dalam memahami wahyu. . Oleh karena itu, Gereja menekankan perlunya
keseimbangan antara iman dan akal dalam kehidupan beragama.
Masalah lain yang muncul adalah tantangan untuk tetap setia pada kebenaran yang telah kita terima. Gereja Katolik percaya bahwa wahyu Tuhan, yang
disampaikan melalui Alkitab dan tradisi lisan, harus dijaga dan disebarkan
dengan setia. Gereja
berusaha untuk menjaga "depositum fidei" dan memastikan bahwa ajaran
yang disampaikan tetap setia kepada kebenaran yang diwahyukan, sambil tetap
membuka diri terhadap dialog dan pemahaman yang lebih dalam tentang misteri
iman.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Wahyu
dipahami sebagai inisiatif Tuhan untuk berkomunikasi dan membangun hubungan dengan
manusia. Tuhan menyatakan diri-Nya, rencana keselamatan-Nya, dan kebenaran
mutlak melalui wahyu. Wahyu lebih dari sekedar informasi, tetapi adalah ajakan
untuk masuk ke dalam hubungan yang intim dengan Sang Pencipta. Iman adalah
tanggapan manusia terhadap wahyu ilahi. Hal ini bukan sekedar keyakinan intelektual
saja, namun berlaku pada seluruh diri manusia, termasuk pikiran, perasaan, dan
kemauan. Iman mencakup penerimaan terhadap kebenaran yang diwahyukan,
kepercayaan pada janji-janji Tuhan, dan komitmen untuk hidup sesuai dengan
ajaran Tuhan.
Sepanjang
sejarah Gereja, pemahaman tentang wahyu terus berkembang dan mengalami
perubahan yang dinamis. Misalnya, Konsili Vatikan II lebih menekankan aspek
personal dari wahyu, dengan menekankan bahwa wahyu adalah perjumpaan antara Tuhan dan manusia. Namun perkembangan
ini juga menghadirkan berbagai tantangan. Salah satunya adalah bagaimana
menyeimbangkan iman dan akal. Gereja
mengajarkan bahwa keduanya saling melengkapi, namun sejauh mana akal dapat digunakan untuk
memahami misteri iman sering kali diperdebatkan.
Oleh Karena itu Wahyu Ilahi dan iman adalah dua konsep dasar
teologi Katolik yang saling berkaitan. Wahyu adalah sumber kebenaran dan
keselamatan, dan iman adalah respons manusia yang diperlukan untuk menerima dan
menghayati wahyu tersebut. Memahami hubungan antara wahyu dan iman merupakan
upaya berkelanjutan dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia
Sumber Lain yang digunakan :
- https://www.vatican.va/content/john-paul-ii/en/encyclicals/documents/hf_jp-ii_enc_14091998_fides-et-ratio.html
- https://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/cti_documents/rc_cti_1989_interpretazione-dogmi_en.html
- https://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/justpeace/documents/rc_pc_justpeace_doc_20060526_compendio-dott-soc_en.html
- https://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/justpeace/documents/rc_pc_justpeace_doc_20060526_compendio-dott-soc_en.html
- https://www.vatican.va/content/john-xxiii/en/encyclicals/documents/hf_j-xxiii_enc_29061959_ad-petri.html
- https://www.vatican.va/content/benedict-xvi/en/audiences/2012/documents/hf_ben-xvi_aud_20121017.html
Komentar
Posting Komentar