Sifat gereja pada dasarnya bersifat insani dan illahi, berasal dari Yesus dan berkembang dalam sejarah. Dalam Efesus 5:27 telah melukiskan bahwa gereja sebagai "Yang Kudus" dan kiranya gagasan itu diambil alih Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama kaum beriman juga disebut "Orang Kudus" (1 Mak 16:39,44). Kata "Katolik" tidak terdapat dalam kitab suci, tetapi sudah dipakai oleh Ignatius dari Antiokhia untuk menunjukan sifat universal, gereja tersebar diseluruh dunia. Kata "Katolik" berarti "Umum" universal untuk menunjukan pada gereja yang "benar" dilawankan dengan bidaah-bidaah. Dalam Lumen Gentium mengutip St. Siprianus, "Gereja tampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus (LG 4).
Gereja yang satu. Konsili Vatikan II menyatakan bahwa "Pola dan prinsip ter-luhur misteri kesatuan gereja ialah kesatuan Allah yang tunggal dalam tiga pribadi Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Sejak awal gereja adalah satu Satu menurut asalnya, satu pula menurut pendirinya dan satu pula menurut jiwanya. Dari asalnya, gereja mengacu pada kesatuan Allah Tritunggal. Maka Gereja yang satu dapat di mengerti sebagai gereja yang bersifat universal yang mengacu pada kesatuan Tri Tunggal yang membentuk persatuan iman didalam Kristus.
Dalam Lumen Gentium 39 menyatakan bahwa Sebab Kristus, Putra Allah, yang bersama dengan Bapa dan Roh dipuji bahwa 'hanya Dialah kudus', mengasihi Gereja sebagai "mempelai-Nya". Gereja itu kudus, karena Kristus yang membuatnya kudus. Dalam LG 48 taraf misteri illahi Gereja sudah suci: "Di dunia ini Gereja sudah ditandai oleh kesucian yang sesungguhnya, meskipun tidak sempurna", "Suci" memiliki arti "yang dikhususkan bagi Tuhan", sebenarnya harus dikatakan bahwa "yang Kudus" adalah Tuhan. Gereja itu ditandai dengan karunia-karunia dari Allah. Dari beberapa penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa gereja yang kudus dapat diartikan sebagai gereja yang ditandai dengan karunia karunia Allah yang kemudian diperbaharui serta hidup seturut kehendak Allah.
Secara historis, Gereja Katolik menghadapi berbagai tantangan yang mengancam persatuan tersebut, seperti perpecahan pada masa Reformasi dan munculnya berbagai denominasi dan sekte Kristen. Permasalahan yang timbul dari perpecahan ini adalah segala ajaran dan praktek yang dapat membingungkan umat beriman dan melemahkan kesaksian kolektif gereja di dunia. Gereja harus terus memupuk dialog ekumenis, membangun jembatan antara tradisi iman yang berbeda, dan berupaya menemukan kesatuan dalam kemarahan.
Tantangan-tantangan yang dihadapi Gereja dalam mempertahankan kekudusan ini dalam kondisi modern sangatlah kompleks. Skandal moral, seperti kasus pengungkapan seksual yang melibatkan anggota gereja, telah merusak reputasi Gereja dan mengakibatkan hilangnya kepercayaan umat. Hal ini memerlukan introspeksi mendalam terhadap Gereja agar dapat kembali pada misi awalnya, menjadi komunitas kudus dan saksi sejati bagi dunia.
Hubungan antara kesatuan Gereja dan kodrat ilahi juga menekankan pentingnya kesatuan dalam hidup suci. Jika Gereja ingin hidup dalam kesatuan, Gereja juga harus berkomitmen menjunjung tinggi dan mengamalkan nilai-nilai kekudusan. Hal ini mencakup ajaran moral yang jelas, praktik sakramental yang konsisten, dan kehidupan rohani yang mendalam. Untuk menghadapi tantangan zaman kita, Gereja harus mengembangkan pendekatan yang inklusif dan penuh kasih sambil tetap setia pada ajaran Kristus. Dengan demikian, Gereja mampu mengenali kesatuan dan kekudusan yang menjadi ciri Gereja serta berfungsi sebagai tanda dan sarana keselamatan umat manusia.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Gereja memiliki sifat yang bersifat insani dan ilahi, yang berasal dari Yesus Kristus dan berkembang dalam sejarah. Karna gereja berkembang dalam sejarah maka dalam sejarahnya, Gereja menghadapi banyak tantangan, termasuk perpecahan yang muncul pada masa Reformasi dan sekte-sekte baru. Tantangan ini mengganggu kesatuan dan kesaksian gereja di dunia.
Selain itu, tantangan modern seperti skandal moral menuntut Gereja untuk introspeksi dan kembali pada misi utamanya. Tantangan modern seperti sekularisme dan pluralisme juga semakin kompleks. Untuk mempertahankan kesatuan dan kekudusan, Gereja perlu menjaga ajaran moral yang jelas, praktik sakramental, serta kehidupan rohani yang mendalam, sambil tetap setia pada ajaran Kristus dan berupaya menjadi saksi kudus bagi dunia.
Maka dari itu hubungan antara kesatuan dan kekudusan Gereja sangat erat. Untuk mempertahankan kesatuan, Gereja harus senantiasa berkomitmen pada kekudusan. Gereja perlu terus melakukan dialog ekumenis, membangun jembatan antar tradisi iman, dan menjadi saksi sejati bagi dunia. Hubungan antara kesatuan dan kekudusan Gereja sangat erat. Untuk mempertahankan kesatuan, Gereja harus senantiasa berkomitmen pada kekudusan. Gereja perlu terus melakukan dialog ekumenis, membangun jembatan antar tradisi iman, dan menjadi saksi sejati bagi dunia.
Komentar
Posting Komentar